Senin, 21 Desember 2015

Part 2
Indah dan Dia

Tanpa perkanalan, tanpa pertemuan yang begitu sering, Aku dan indah sedikit demi sedikit saling mengnal, dan indah pun sepertinya tahu perasaanku padanya. Seperti hal nya anak-anak lain yang saling menyukai, kami pun seperti itu. Malu-malu saat bertemu padahal hanya berpapasan saja, saling titip salam dan sebagainya, tapi akulah yang selalu menitip salam dan indah tak pernah sama sekali.
hingga suatu hari, indah sedang bersepeda dengan saudara perempuannya, saat itu pun aku sedang bermain di tempat yang sama “kebetulan yang menyenangkan” pikirku. Dengan penuh percaya diri ku hampiri indah dan saudaranya yang sedang bersepeda, seperti super hero aku muncul di depan sepeda mereka dan menghentikan sepeda mereka. Untuk dapat mendekati indah aku harus berbuat usil, karena kami tidak pernah bisa bersama, karena indah selalu menjauh entah karena malu atau apa, yang namanya anak kecil.
Saudara perempuan indah yang tengah membonceng indah sedikit terkejut dengan sikapku yang sangat usil tersebut. Aku hanya tersenyum ke arah indah dan menyapanya “hai ndah”, “minggir, jangan halangi sepedanya” ucap indah perlahan. Aku masih tetap menghalangi sepeda mereka, tanpa kusadari saudara perempuan indah ternyata marah dan kesal, namun dia tak berkata apapun, dia hanya diam dan menyaksikan aku dan indah yang tengah berdebat. mulai sejak kejadian itu saudara indah telah membenciku tanpa ku sadari.
Tanpa kusadari, Itu adalah pertemuan pertamaku dengan saudaranya indah. Sejak pertama kali bertemu dengannya dia sudah benci dan tidak suka degan sikapku.
Selesai dengan keusilanku terhadap indah dan saudaranya, aku kembali melanjutkan bermain dengan teman-teman sampai akhirnya pulang.
Sore yang indah pun menjelang, dengan rasa jenuh karena hanya mengurung diri di rumah aku pun berjalan ke pinggir jalan, tempat biasa teman-temanku berkumpul. “keberutungan nih” terbersit di pikiranku. Karena melihat indah lewat untuk jalan-jalan menuju pantai. Namun kali ini dia tidak sendiri ataupun bersama saudaranya, dia bersama teman sekolahnya dan ada guru yang mendampingi. “mungkin mereka akan berlatih sesuatu atau hanya berkumpul dengan teman sekelas” pikirku.
Tanpa berpikir panjang ku ajak teman-temanku untuk bermain ke pantai, dengan maksud mengikuti indah dan sekedar untuk dapat melihatnya lebih lama. Hanya beberapa menit berjalan kami pun sampai di pantai karena rumahku sangat dekat dari pantai. Namun aku tak mengikuti indah sampai ke pantai, aku mengajak teman-temanku berhenti tepat di depan jalan masuk pantai. “sebaiknya aku tunggu dia disini saja, ku ikutipun aku tidak bisa mendekat karena ada teman-teman dan gurunya”, pikirku. Sambil menunggu intan pulang aku mengajak teman-temanku untuk memetik mangga.
Indah muncul, “aku harus menghampirinya” ucapku pada diri sendiri. seperti biasa, caraku mendekatinya bukanlah dengan cara yang wajar, lagi-lagi aku mendekatinya dengan cara mengusilinya. Kutunggu dia di tempat duduk di samping gerbang masuk pantai. Sampai akhirnya dia melewatiku dengan sedikit melirik ke arahku, sejenak setelah dia melewatiku ku kait kakinya, hal usil biasa seperti yang dilakukan anak-anak lainnya, ku ambil sandal yang dia pakai, sedikit ku permainkan dia dengan mengoloknya agar tidak bisa meraih sandalnya yang tengah ku pegang, “tak apa kau sedikit kesal, tetaplah seperti ini sebentar lagi, tak ada cara lain selain dengan cara ini untuk mendekatimu” kataku dalam hati. Sampai semua teman-teman kami memperhatikan dan hanya bisa terdiam melihat keusilan yang aku lakukan kepada indah, kemudian gurunya mulai berbicara dan entah berkata apa. Setelah indah terlihat semakin kesal, akhirnya ku lepaskan dan aku kemabalikan sandalnya.
Dengan raut muka kesal indah pun pergi dan teman-temannya yang sejenak berhenti untuk menyaksikan adegan kami itu pun ikut berlalu mengikuti indah.
“hari akan terasa indah hanya dengan melihatnya, dan semakin indah saat aku dapat membuat dia kesal dengan sikap usilku” kataku dalam hati. Setelah indah dan teman-teman serta gurunya agak jauh, aku pun mengajak teman-temanku untuk pulang, karena hari pun sudah mulai petang. “ satu lagi hari yang menyenangkan, dengan membuat kenangan bersamanya” pikirku sambil beranjak pulang bersama yang lain.

Bersambung...

-K-
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar