Part 2
Indah
dan Dia
Tanpa
perkanalan, tanpa pertemuan yang begitu sering, Aku dan indah sedikit demi
sedikit saling mengnal, dan indah pun sepertinya tahu perasaanku padanya. Seperti
hal nya anak-anak lain yang saling menyukai, kami pun seperti itu. Malu-malu
saat bertemu padahal hanya berpapasan saja, saling titip salam dan sebagainya,
tapi akulah yang selalu menitip salam dan indah tak pernah sama sekali.
hingga
suatu hari, indah sedang bersepeda dengan saudara perempuannya, saat itu pun
aku sedang bermain di tempat yang sama “kebetulan yang menyenangkan” pikirku.
Dengan penuh percaya diri ku hampiri indah dan saudaranya yang sedang
bersepeda, seperti super hero aku muncul di depan sepeda mereka dan
menghentikan sepeda mereka. Untuk dapat mendekati indah aku harus berbuat usil,
karena kami tidak pernah bisa bersama, karena indah selalu menjauh entah karena
malu atau apa, yang namanya anak kecil.
Saudara
perempuan indah yang tengah membonceng indah sedikit terkejut dengan sikapku
yang sangat usil tersebut. Aku hanya tersenyum ke arah indah dan menyapanya
“hai ndah”, “minggir, jangan halangi sepedanya” ucap indah perlahan. Aku masih
tetap menghalangi sepeda mereka, tanpa kusadari saudara perempuan indah
ternyata marah dan kesal, namun dia tak berkata apapun, dia hanya diam dan
menyaksikan aku dan indah yang tengah berdebat. mulai sejak kejadian itu
saudara indah telah membenciku tanpa ku sadari.
Tanpa
kusadari, Itu adalah pertemuan pertamaku dengan saudaranya indah. Sejak pertama
kali bertemu dengannya dia sudah benci dan tidak suka degan sikapku.
Selesai
dengan keusilanku terhadap indah dan saudaranya, aku kembali melanjutkan
bermain dengan teman-teman sampai akhirnya pulang.
Sore
yang indah pun menjelang, dengan rasa jenuh karena hanya mengurung diri di
rumah aku pun berjalan ke pinggir jalan, tempat biasa teman-temanku berkumpul. “keberutungan
nih” terbersit di pikiranku. Karena melihat indah lewat untuk jalan-jalan
menuju pantai. Namun kali ini dia tidak sendiri ataupun bersama saudaranya, dia
bersama teman sekolahnya dan ada guru yang mendampingi. “mungkin mereka akan
berlatih sesuatu atau hanya berkumpul dengan teman sekelas” pikirku.
Tanpa
berpikir panjang ku ajak teman-temanku untuk bermain ke pantai, dengan maksud
mengikuti indah dan sekedar untuk dapat melihatnya lebih lama. Hanya beberapa
menit berjalan kami pun sampai di pantai karena rumahku sangat dekat dari
pantai. Namun aku tak mengikuti indah sampai ke pantai, aku mengajak
teman-temanku berhenti tepat di depan jalan masuk pantai. “sebaiknya aku tunggu
dia disini saja, ku ikutipun aku tidak bisa mendekat karena ada teman-teman dan
gurunya”, pikirku. Sambil menunggu intan pulang aku mengajak teman-temanku
untuk memetik mangga.
Indah
muncul, “aku harus menghampirinya” ucapku pada diri sendiri. seperti biasa,
caraku mendekatinya bukanlah dengan cara yang wajar, lagi-lagi aku mendekatinya
dengan cara mengusilinya. Kutunggu dia di tempat duduk di samping gerbang masuk
pantai. Sampai akhirnya dia melewatiku dengan sedikit melirik ke arahku,
sejenak setelah dia melewatiku ku kait kakinya, hal usil biasa seperti yang
dilakukan anak-anak lainnya, ku ambil sandal yang dia pakai, sedikit ku
permainkan dia dengan mengoloknya agar tidak bisa meraih sandalnya yang tengah
ku pegang, “tak apa kau sedikit kesal, tetaplah seperti ini sebentar lagi, tak ada
cara lain selain dengan cara ini untuk mendekatimu” kataku dalam hati. Sampai
semua teman-teman kami memperhatikan dan hanya bisa terdiam melihat keusilan
yang aku lakukan kepada indah, kemudian gurunya mulai berbicara dan entah
berkata apa. Setelah indah terlihat semakin kesal, akhirnya ku lepaskan dan aku
kemabalikan sandalnya.
Dengan
raut muka kesal indah pun pergi dan teman-temannya yang sejenak berhenti untuk
menyaksikan adegan kami itu pun ikut berlalu mengikuti indah.
“hari
akan terasa indah hanya dengan melihatnya, dan semakin indah saat aku dapat
membuat dia kesal dengan sikap usilku” kataku dalam hati. Setelah indah dan
teman-teman serta gurunya agak jauh, aku pun mengajak teman-temanku untuk
pulang, karena hari pun sudah mulai petang. “ satu lagi hari yang menyenangkan,
dengan membuat kenangan bersamanya” pikirku sambil beranjak pulang bersama yang
lain.
Bersambung...
-K-