Part
1
Indah
“Indah”
nama perempuan yang pertama kali membuatku mengenal kata cinta. Siapa yang
dapat menyangka diriku dulu yang masih duduk di sebuah sekolah dasar dapat
merasakan yang namanya cinta pada usia sekecil itu. Jika ku ingat, itu
merupakan saat yang lucu.
Kata
“cinta datang tanpa pernah kita duga” bertemu denganku ketika aku masih duduk
di bangku kelas IV sekolah dasar. “indah” nama perempuan yang membuatku
merasakannya, entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Dia berbeda sekolah
denganku, sehingga kami tak bisa setiap hari bertemu, namun orang tua indah
adalah guru di sekolahku. Sesekali indah datang untuk mengunjungi ibunya ke
sekolahku. “dia datang, apa yang harus ku lakukan”, kata itu terngiang dalam
pikiranku, dalam pikiranku yang dulu masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku
terdiam di depan kelas tanpa melakukan apapun namun sesekali melirik ke
arahnya, entah mungkin dia tahu atau tidak.
Ragaku
hanya terdiam namun dalam pikiran banyak sekali kata yang berkecamuk, “apa yang
harus ku lakukan ? haruskah ku hampiri dia, punyakah aku kebernian untuk
menghampiriya”. “memangnya apa yang akan aku lakukan kalau sudah menghampirinya
?, berkenalan ?, tapi tanpa berkenalanpun kami sudah saling kenal meskipun
hanya sedikit”. Kata-kata itu terus berputar dalam pikiranku. Lucu sekali jika
mengingat kembali, hal seperti itu terjadi pada diriku yang masih di sekolah
dasar.
Hingga
akhirnya bel menandakan waktu sekolah telah berakhir berbunyi. Dengan kata-kata
yang masih berputar di kepala, ku raih tas yang terletak di atas mejaku dan
mulai beranjak pulang, tanpa melakukan satupun hal yang telah ada dikepalaku
sejak indah datang ke sekolahku.
Hal
yang tidak pernah kuduga terjadi, “keberuntungan” mungkin bisa dikatakan
seperti itu, di tengah pejalan pulang ku coba membuka tas, entah apa tujuan dan
hal yang mendorongku membuka tasku tersebut aku sama sekali tidak mengerti.
Hingga akhirnya aku melihat ke dalam tasku, ternyata bukuku tertinggal di
kelas, dengan pikiran “sebaiknya aku kembali mengambilnya, toh disana mungkin
masih ada indah, jadi aku bisa melihatnya sedikit lagi, aku harus kembali
mengambilnya!!!”. aku pun beranjak kembali ke sekolah, sampai di sekolah sambil
memperhatikan sekitar dengan tujuan mencari keberadaan indah perlahan aku masuk
ke dalam kelas. Sampai di dalam kelas aku tidak melihat indah sama sekali,
begitu juga dengan bukuku yang tertinggal, keduanya hilang.
“Biarkan sajalah, mungkin sudah hilang, nanti
aku beli yang baru saja”, dengan pikiran tersebut aku pun keluar kelas dan
beranjak pulang, namun tiba-tiba indah keluar dari ruang kelas sebelah dan
kulihat dia membawa bukuku yang aku kira telah hilang. Ku hampiri indah dengan
maksud meminta kembali buku tersebut. Sudah begitu dekat aku mendatanginya dia
malah lari membawa buku itu, tanpa berpikir panjang aku pun mengejarnya, adegan
kejar-kejaran tersebut terasa begitu indah, “teruslah berlari, jangan berhenti,
aku tak akan mau menangkapmu, aku hanya akan mengejarmu”, pikirku bahagia
dengan adegan tersebut. Tanpa kusadari kakak kelas dan beberapa teman meneriaki
kami, karna saat itu anak kelas I sampai IV pulang duluan dan kelas V, VI masih
di sekolah. Aku tak menghiraukan teriakan itu, namun tiba-tiba indah berlari
pelan sampai aku bisa menyusulnya, entah teriakan itu atau indah telah lelah
berlari sehingga dia menjadi semakin pelan.
Tanpa
berbicara sepatah katapun aku mengambil buku yang ada di tangan indah, dan
indah pun dengan tenang tanpa berkata apa-apa membiarkanku mengambilnya. “ahhh.
Berakhir sudah adegan indah ini, kapan lagi akan terjadi” pikirku sambil
menarik buku dari tangan indah. Dengan perasaan bahagia akupun benar-benar
beranjak pulang.
Bersambung...
-K-