Minggu, 20 Desember 2015

Part 1
Indah

“Indah” nama perempuan yang pertama kali membuatku mengenal kata cinta. Siapa yang dapat menyangka diriku dulu yang masih duduk di sebuah sekolah dasar dapat merasakan yang namanya cinta pada usia sekecil itu. Jika ku ingat, itu merupakan saat yang lucu.
Kata “cinta datang tanpa pernah kita duga” bertemu denganku ketika aku masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. “indah” nama perempuan yang membuatku merasakannya, entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Dia berbeda sekolah denganku, sehingga kami tak bisa setiap hari bertemu, namun orang tua indah adalah guru di sekolahku. Sesekali indah datang untuk mengunjungi ibunya ke sekolahku. “dia datang, apa yang harus ku lakukan”, kata itu terngiang dalam pikiranku, dalam pikiranku yang dulu masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku terdiam di depan kelas tanpa melakukan apapun namun sesekali melirik ke arahnya, entah mungkin dia tahu atau tidak.
Ragaku hanya terdiam namun dalam pikiran banyak sekali kata yang berkecamuk, “apa yang harus ku lakukan ? haruskah ku hampiri dia, punyakah aku kebernian untuk menghampiriya”. “memangnya apa yang akan aku lakukan kalau sudah menghampirinya ?, berkenalan ?, tapi tanpa berkenalanpun kami sudah saling kenal meskipun hanya sedikit”. Kata-kata itu terus berputar dalam pikiranku. Lucu sekali jika mengingat kembali, hal seperti itu terjadi pada diriku yang masih di sekolah dasar.
Hingga akhirnya bel menandakan waktu sekolah telah berakhir berbunyi. Dengan kata-kata yang masih berputar di kepala, ku raih tas yang terletak di atas mejaku dan mulai beranjak pulang, tanpa melakukan satupun hal yang telah ada dikepalaku sejak indah datang ke sekolahku.
Hal yang tidak pernah kuduga terjadi, “keberuntungan” mungkin bisa dikatakan seperti itu, di tengah pejalan pulang ku coba membuka tas, entah apa tujuan dan hal yang mendorongku membuka tasku tersebut aku sama sekali tidak mengerti. Hingga akhirnya aku melihat ke dalam tasku, ternyata bukuku tertinggal di kelas, dengan pikiran “sebaiknya aku kembali mengambilnya, toh disana mungkin masih ada indah, jadi aku bisa melihatnya sedikit lagi, aku harus kembali mengambilnya!!!”. aku pun beranjak kembali ke sekolah, sampai di sekolah sambil memperhatikan sekitar dengan tujuan mencari keberadaan indah perlahan aku masuk ke dalam kelas. Sampai di dalam kelas aku tidak melihat indah sama sekali, begitu juga dengan bukuku yang tertinggal, keduanya hilang.
 “Biarkan sajalah, mungkin sudah hilang, nanti aku beli yang baru saja”, dengan pikiran tersebut aku pun keluar kelas dan beranjak pulang, namun tiba-tiba indah keluar dari ruang kelas sebelah dan kulihat dia membawa bukuku yang aku kira telah hilang. Ku hampiri indah dengan maksud meminta kembali buku tersebut. Sudah begitu dekat aku mendatanginya dia malah lari membawa buku itu, tanpa berpikir panjang aku pun mengejarnya, adegan kejar-kejaran tersebut terasa begitu indah, “teruslah berlari, jangan berhenti, aku tak akan mau menangkapmu, aku hanya akan mengejarmu”, pikirku bahagia dengan adegan tersebut. Tanpa kusadari kakak kelas dan beberapa teman meneriaki kami, karna saat itu anak kelas I sampai IV pulang duluan dan kelas V, VI masih di sekolah. Aku tak menghiraukan teriakan itu, namun tiba-tiba indah berlari pelan sampai aku bisa menyusulnya, entah teriakan itu atau indah telah lelah berlari sehingga dia menjadi semakin pelan.
Tanpa berbicara sepatah katapun aku mengambil buku yang ada di tangan indah, dan indah pun dengan tenang tanpa berkata apa-apa membiarkanku mengambilnya. “ahhh. Berakhir sudah adegan indah ini, kapan lagi akan terjadi” pikirku sambil menarik buku dari tangan indah. Dengan perasaan bahagia akupun benar-benar beranjak pulang.

Bersambung...

-K-
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar