Part 3
Indah
dan Fatin
Setalah
lama menyukai indah dalam diam, akhirnya aku membuat kemajuan dengan memberanikan
diri menanyakan nomor handphone indah kepada temannya fatin. Fatin adalah teman
dan tetangganya indah, dan kebetulan fatin adalah teman sekelasku. Dari fatin
kemudian aku mengetahui nomor indah.
“apa
yang aku harus aku tulis, aku harus bilang apa, apakah dia akan membalas,
bagaimana ini” aku resah sendiri sambil memegang handphone yang ku pinjam dari
orang tuaku. Aku bingung sendiri harus menulis sms apa ke indah.
“maaf,
bener kan ini nomer indah ?” sms pertama yang ku kirim kepada indah. dengan
resah aku menunggu balasan dari indah, cukup lama aku meunggu tapi tak ada
balasan sama sekali. “mungkin orang tuanya yang membaca pesanku, bagaimana ini,
dia gak mungkin membalas pesanku” pikirku resah tak karuan.
Drrrrtttt....drrrrttttt....
Handphone yang ku letakkan di
sampingku pun bergetar. Ternyata ada pesan masuk, perlahan dengan penuh harap
ku raih handphone dan kubuka pesan masuk tersebut. Dan benar itu balasan dari
indah, bukan orang tuanya. “iya, ini indah, ini siapa ya ?” balasan singkat dari
indah. “ini karman, tau kan ?” balasku singkat. “oh iya, ada apa ?” indah
kembali membalas. “aku harus bilang apa lagi” aku bicara sendiri. “nggak Cuma
mau smsan aja” kata yang akhirnya ku pilih untuk membalas pesan indah.
“ohhhh... kirain ada apa” jawab indah singkat dan membuatku bingung harus
membalas apalagi, padahal aku ingin lebih lama untuk sekedar saling berbalas
pesan dengannya. Namun karena aku kehabisan kata-kata dan dengan pikiran
“paling dia tidak akan membalas pesanku lagi kalu tidak penting”, aku pun
mengakhiri bincangan kami lewat handphone malam itu.
Setelah keberhasilan yang berakhir dengan kegagalan
pada chatingan pertama, akupun kembali memberanikan diri untuk mengirim pesan
kepada indah. “hai indah, lagi ngapain ?” pesan basa-basi singkat yang ku kirim
ke indah. “kali ini apakah di akan membalas lagi setelah tau aku yang
mengiriminya pesan” ucapku dalam hati.
Drrrrrtttt...drrrrrttttt.... ponselku bergetar,
ternyata indah membalas pesanku. “gak lagi ngapa2in, kenapa ?” balasan singkat
indah. “gpp Cuma mau smsan aja”, jawabku kembali. “ohhhhh” balasan indah
semakin singkat. Dengan basa basi yang lumayan panjang akhirnya aku
memberanikan diri bertanya, “ketemu yuk, pengen juga ketemu kamu”. “maaf aku
gak bisa” kata penolakan indah yang kubaca di pesan masuk. “kenapa ?” balasku
singkat. “gpp gak mau aja, aku gak biasa ketemuan sama orang, apalagi
laki-laki” balas indah. “ohhhhh... yaudah, mudahan kapan2 bisa ketemu”, jawabku
kembli. Chatingan kami malam itu pun berakhir lagi. Berakhir dengan kegagalan
kembali.
Bersambung...
-K-